teknik menawarkan ala penjual buku voucher mirip dengan MLM

wadudut, apa lage ini? yah sebenernya sih baru saja saya main ke mall dan di tawari oleh penjual buku voucher, yah lagi duduk dan minum minuman tidak keras tentunya, menikmati kesantaian, dengan laptop sembari menunggu waktu nonton, sekalian beristirahat setelah berjalan jalan setelah melihat beberapa brosur untuk kendaraan baru yang insya allah ingin saya beli, akhirnya di saat santai tersebut saya di datangi oleh wanita, tidak cantik, dan tidak kurus, serta tidak mulus (wah bukan tipe saya ini) lalu mengajak saya berbicara, nah karena dia meminta ijin dengan sopan tentu saya persilakan sambil meneguk minuman, dan ternyata di tawari buku voucher

Screen Shot 2013-08-17 at 2.09.50 AM

wah, ternayata dia adalah salles buku voucher, nah bagi yang belum tahu buku voucher, bisa baca disini. intinya sih mengajak saya untuk menyumbang dengan menyumbang saya mendapatkan buku voucher yang bisa digunakan sampai tengah tahun 2017, saya buka buka, wah ternyata isinya benar benar banyak bintang ketjil (*) yang menjebak, intinya 100 ribu untuk nyumbang cuma 30 ribu, 70 ribu sisanya? ya entah mabur kemana, ngoahahhaha, nah ada hal yang menarik dalam prosesi penawaran buku vouchernya, benar benar mirip member MLM, atau mungkin mirip juga prospek Asuransi telemarketing. bagaimana kisahnya? monggo di simak terus

nah karena saya sudah master dan expert untuk menolak secara langsung kok kesanya tidak ada gregetnya, akhirnya saya coba mendengarkanya sampai akhir dengan mengiyakan omonganya, tujuanya apa lagi untuk menjadikan bahan blog, agar para pembaca bisa makin waspada dan ngerti dimana saat mereka menolak, yah inti dari pembicaraanya seperti ini

pertama, kita akan di tanyakan namanya dahulu, kemudian saat kita jawab akan di tanya apa pekerjaan kita, nah fyi di sini mereka menyasar orang yang terlihat prentele, walau sudah dandan ala gembel pun tetep keliatan lah admin jildhuz cukup sebagai target mengiurkan untuk di prospek, kemudian kita di kenalkan dengan yayasan tertentu (saya tidak mau menyebut nama yayasanya yah) nah di sini pula kita di gugah rasa simpatik dan rasa empatik kita terhadap orang yang tinggal di yayasan ini, intinya dia mengenalkanya dengan cara singkat dan jelas, sambil membuat kita berkata iya dan iya saja, karena memang yang di bicarakan masih bernada informasi.

scientist-vs-bullshit_meme

sambil menjelaskan yayasan tadi tentu mereka mengajak kita membantu dengan memberikan buku voucher yang di jual (eng ing eng) , tentunya kata kata membantu, kemanusiaan, simpatik, dan beramal adalah kata kata utama mereka. sambil menjelaskan dengan memperlihatkan buku buku tadi kita tidak di jelaskan vouchernya apa saja, berapa jumblahnya dimasing masing voucher, terus cara menggunakanya di masing masing voucher gimana, dll, tetapi justru yang di jelaskan adalah rasa kemanusiaan kita, nah saya baca di buku tersebut ada harga buku 100 ribu rupiah dengan cuma 30% yang di sumbangkan, alias cuma 30 ribu, tetapi malah kita di kenalkan dengan kita harus ngebantu mereka, (dalam hati, kalo ngebantu harusnya harga buku voucher sama sumbangan minimal banyakan sumbanganya lah,) nah setelah di jelaskan harga dan ngebantu ini, terus saya ditanyakan nomor telepon dan alamat email, disini kita seperti di giring, bukan untuk membeli buku tetapi untuk membantu, walau unsur ngebantunya tidak mayoritas, ngoahahha

nah saat ditanya nomor telepon dan email aktiv ini artinya adalah perjalan terakhir prospek, karena mereka takut kalau di tanyakan bahwasanya 30% yang nyumbang, sisanya ya lari ke mereka sendiri, makanya transaksi jual beli ini harus singkat padat dan di selesaikan dengan secepatnya, jika sudah di tanya nomor telepon dan email mending di jawab tidak saja, nah disini penjual merasa kaget, kenapa kaget? karena biasanya yang iya iya iya saja itu akan beli, tetapi karena saya anti main stream, ya tentunya menjawab tidak di akhir kata kata tidak membuat mereka sedikit terguncang dan gemetar.

nah saat mengatakan tidak, senjata kemanusiaan mereka di lemparkan lagi, seperti menanyakan apakah saya tidak mau membantu? apakah saya tidak memiliki perasaan kemanusiaan? ya saya jawab saja saat ini saya tidak berminat, tidak usah lah menyebutkan 30% tadi, soalnya mereka cuma salles bukan dedengkot, jelasin kaya apa aja gak akan sampe kededengkotnya. bahwasanya kalau mau menyumbang itu harus menyumbang dengan ikhlas, kalau jual buku voucher dengan nominal sumbangan minoritas (30% dari harga jual buku kertas dengan kertas foto murah tadi) sebaiknya jangan bicara kemanusiaan, justru durjana namanya jika jual jual kata kemanusiaan tetapi ternyata cari profit, beda ceritantya kalau 90% hasil penjualan di sumbangkan, mungkin masih lebih waras nyebut kalau kita bergerak di bidang kemanusiaan.

lalu apakah persamaanya dengan MLM dan asuransi telemarketing? mari kita bahas

59131820

perkenalan yang sopan, tetapi tidak biasa

nah di sini yang aneh, secakep apapun cowonya di tempat umum tidak akan di datangi cewe, apa lagi mengajak kenalan dan meminta ijin untuk berbicara sesuatu, dan tentu ternyata mereka akhirnya menjual produk, agen asuransi menjual asuransi dan keagenan, MLM menjual sistem dan produk MLM dan penjual buku voucher menjual buku vouchernya

menanyakan pekerjaan dan melihat penampilan seseorang

ini juga hal penting, baik MLM, money game, asuransi, hingga buku voucher mereka selalu menarget kalangan kalangan tertentu berdasarkan penampilan, karena apa? karena mereka cari duit, mereka harus mencari orang yang punya duit bukan sebagainya? monggo lihat MLM yang katanya membantu sesama yang di cari yang punya duit, minat dan semangat tanpa duit mah bakalan mereka tinggalkan, tapi gak minat tapi punya duit akan di kejar, begitupula ASUransi, katanya sih untuk proteksi kita, tapi gak pernah menawarkan proteksi ke simiskin, justru yang di kejar kejar yang kaya, lha, yang kaya mah gak terlalu bingung kalau sakit, beda kalau yang miskin, buat makan saja bingung, apa lagi kalo sakit parah, dan kenapa asuransi tidak mau menolong mereka dengan preminya yang luar biasa? ya karena yang mereka cari cuma duit

begitupula dengan buku voucher ini, selalu duit yang dicari, jadi jangan heran kalau salles buku voucher ini akan memilih milih pelangan yang terlihat prentele, minimal peganganya bisa dianggap berduit. tapi ingat mereka kadang di target, jadi kalo belum sesuai target biasanya rada membabi buta, siapa saja akan di tawarkan uku voucher ini. mau aman, ya jangan duduk nyante, nanti disamperin. ngoahaha

membawa bawa sesuatu yang tidak di jual alias “MENGIRING OPINI”

MLM bisanya menjual apa? produk MLM dari pembalut hingga permen, nah kadang kita tidak di kenalkan pembalutnya dahulu, melainkan di tanya apa mimpi anda, terus di giring untuk memimpikan sebagai orang kaya, nah jika asuransi maka sesuatu yang di jual bukan preminya, tetapi mengiring opini bahwa kita pasti akan sakit dan bangkrut, kadang hidup sehat sekalipun tetap di bilang akan mati, tapi heranya mereka gak menawarkan premi secara jujur, satu pertanyaan saya yang masih ngeganjel, kalau misalkan kita mati apa sakit, apakah dengan ikut asuransi kita jadi tidak sakit dan tidak mati? tentu tidak kan, nah itu hebatnya pengiringan opini

kalau di buku voucher apa yang di bawa bawa? ya menyumbang yayasan tertentu, memang benar mereka menyumbang, tetapi cuma 30%, 1/3nya dari hasil penjualanpun tidak ada, kok yang di bawa bawa malah menyumbangnya, bukan memberikan pengetahuan kita akan fungsi voucher tersebut, nah loh

tidak pernah menjelaskan tramsaksi jual beli secara jelas

nah ini yang kadang luput, MLM cuma di ajak join, tetapi tidak ada prosesi akad join MLM, adanya suruh isi form dan tanda tangan, tanpa sadar kita suruh bayar, di asuransi, terutama telemarketing brengsek, kita suruh ngomong iya iya yg di rekam sebagai persetujuan, dan terakhir di buku voucher kita di suruh menyebutkan nomor telepon dan email, nanti kalau udah di isi suruh bayar.

58170404

saran saya, mending semales malesnya anda menanggapi model seperti mereka, tetap dengarkan, dan kalau memang males mending langsung bilang anda tidak minat, dan tidak usah memberikan alesan anda tidak minat, itu sudah sangat menohok

last, sebagai manusia, kadang kita akan berinteraksi dengan mereka, penjual buku voucher, seseorang yang bekerja yang mencari nafkah dengan cara yang kebelinger, cara terbaik jika anda minat ya monggo di beli, jika niat membantu saja, mending cari tahu yayasanya, search di google, terus nyumbang secara langsung, jika tidak minat mending tidak usah di tanggapi, tolaklah dengan halus kecuali mereka nyolot. ciaoo

Iklan

4 pemikiran pada “teknik menawarkan ala penjual buku voucher mirip dengan MLM

  1. meski hal ini sudah berlangsung lama, tapi sampe saat ini saya belum menemui praktik seperti ini di kota saya. mungkin karena kota kecil. yang marak sekarang kita ditelpon untuk ngambil undian dan harus nebus hadiahnya sekian juta. kalo gak salah modusnya pernah diulas di blog ini

    Suka

  2. yang mengulas itu yang ngga jelas bos ,semua tawaran yang berbau mlm langsung dikategorikan buruk,penipuan lah…ngga semua mlm itu buruk atau menipu….dan semua pekerjaan di dunia ini itu berupa mlm…kenapa karena semua memakai jaringan ,ada keuntungan yang di dapat secara langsung dan ada keuntungan yang didapat dari bonus penjualan dan perekrutan…contoh keuntungan lansung yang didapat kita beli mobil…tapi bukan kepada yang membuat mobil,tapi kita lewat dengan orang yang menawarkan atau marketing….marketing menawarkan harga yang sebenarnya dari sorum tempat dia bekerja…akan tetapi marketing dapat bonus penjualan..apakah ini bukan modus mlm …belum lagi bos yang punya saham akan untung dari penjualan bagaimana dengan yang membuat mobil pasti juga diuntungkan ..dan anda yang membeli jelas akan dirugikan kalau anda mengerti …jadi semua pekerjaan jual beli…dan makan gaji bulanan juga sistemnya ada mlm…anda pekerja di perusahaan juga sama…gaji umķ…besar kecilnya gaji tergantung ka ahlian masing-masing…apakah juga anda sudah menghitung berapa perjam dan perhari gaji anda….di hutang jam kerja anda…apakah anda juga tahu kalau bos anda telah menjual anda di perusahaan tersebut dengan hitungan per kepala dan keahlian anda di mana bos anda cuma plesiran main gold,atau jalan-jalan keluar negeri ,sedangkan anda banting tulang di perusahaan tersebut…sekarang saya tanya siapa yang di buat kaya…bukan anda kan…apa ini bukan modus mlm….menguntungkan diatas…jawabannya apa pakai modal dong kalau mau kaya….itu kuncinya….

    Suka

Berikan Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s